Hello .. I’m back..

Dear pencinta blog saya yang sangat saya cintai.. hampir 3 tahun saya tidak menulis di blog ini.. Namun, entah kenapa malam ini saya tergerak untuk mengaktivasi blog saya yang selama ini saya deaktivasi. Banyak komentar dari pembaca yang pending dan akan saya approved untuk dimunculkan dalam blog ini. Namun, mungkin butuh waktu untuk membalasnya satu persatu..

Selamat menikmati..

Wassalam

Vera Julia

APA ITU IMPLANT GIGI ?

Kehilangan gigi merupakan suatu kasus yang sering dijumpai di bidang kedokteran gigi. Kasus kehilangan gigi ini idealnya harus segera direstorasi. Ada beberapa cara untuk menggantikan gigi yang hilang, yaitu antara lain gigi tiruan lepasan, gigi tiruan jembatan dan implant gigi. Perbedaan ketiga cara tersebut menjadi pilihan bagi pasien. Gigi tiruan lepasan adalah gigi tiruan yang dapat di lepas-pasang. Namun, kekurangan gigi tiruan ini ialah masih dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada pasien, dan juga ada kemungkinan hilang atau tertelan.. Sedangkan gigi tiruan jembatan diperoleh dengan mengecilkan gigi tetangga untuk dipasangi mahkota tiruan sebagai penyangga mahkota tiruan gigi yang ompong tersebut. Gigi tiruan dengan tipe ini kadang pada akhirnya dapat merusak gigi tetangga yang digunakan sebagai penyangga, karena permbersihan dibawah mahkota tiruan tersebut sulit dilakukan pasien, sehingga lambat laun gigi tetangga yang dipasang mahkota tiruan penyangga tersebut dapat mengalami karies dan kegoyangan.

Untuk mengatasi kekurangan-kekurangan di atas, maka metode penggantian gigi semakin dikembangkan, dan pada sekitar tahun 1960-an, dimulailah percobaan menanam material (logam titanium) ke dalam tulang rahang yang bertujuan untuk menggantikan akar gigi yang hilang, lalu menunggu sampai terjadinya proses penyatuan material tersebut dengan tulang rahang (osteointegrasi) kemudian di atasnya dibuatkan sambungan (abutment) untuk memegang mahkota tiruan dan proses ini dikenal dengan nama implant gigi. Teknologi ini sendiri telah mampu berfungsi untuk menggantikan gigi asli. Di dalam gigi asli terdapat dua bagian, yaitu akar gigi yang tertanam di dalam tulang dan mahkota gigi yang muncul di bagian rongga mulut. Untuk teknologi implant gigi memiliki bagian yang masuk ke dalam tulang dan menggantikan akar, sedangkan gigi tiruan lepasan dan gigi tiruan jembatan tidak memiliki akar yang bias tertanam di dalam tulang rahang.

Sebenarnya, implant gigi adalah akar gigi tiruan yang ditanam ke dalam rahang untuk menggantikan akar gigi asli yang telah hilang. Proses penanaman dilakukan melalui mekanisme pembedahan minor, yaitu dengan cara membuka gusi dan kemudian membuat lobang di bagian tulang dengan ukuran antara 3-4 milimeter dengan panjang bervariasi sesuai dengan kebutuhan.

Implant gigi mempunyai manfaat fungsional dan juga estetika, dimanafungsi pengunyahan pasien dapat disempurnakan dan juga mengembalikan senyum pasien menjadi lebih menawan dengan susunan gigi yang mirip dengan gigi aslinya. Implant gigi juga lebih rigid dan stabil sehingga nampak lebih natural dan mempunyai kekuatan gigitan yang lebih baik. Namun, proses pemasangannya membutuhkan beberapa kali kunjungan seperti telah dijelaskan di atas dan juga dibutuhkan biaya yang cukup besar.

Metode implant gigi ini tidak dianjurkan diaplikasikan pada anak-anak, tetapi lebih tepat bagi pasien dewasa atau ketika pertumbuhan tulang sudah selesai. Sebenarnya tidak ada kontra indikasi yang mutlak untuk pemasangan implant gigi ini, akan tetapi untuk pasien yang mempunyai kebiasaan merokok sebaiknya mengurangi atau berhenti sama sekali dari kebiasaan tersebut, dan untuk pasien yang mempunyai riwayat penyakit Diabetes, juga harus mengontrol kadar gulanya dulu sebelum melakukan pemasangan implant gigi. Untuk pasien dengan riwayat penyakit sistemik tertentu sebaiknya melakukan konsultasi pada Dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk mendapatkan persetujuan tindakan pemasangan implant gigi tersebut.

Dalam pemasangan implant gigi ini diperlukan kerja sama yang baik antara dokter gigi dan pasien. Dokter gigi harus menjelaskan informasi yang berhubungan dengan pemasangan implant gigi dengan sebaik-baiknya sampai pasien mengerti tahapan proses pemasangan implant gigi yang akan dilakukan terhadap dirinya. Bila pasien telah mengerti dan setuju, baru pemasangan implant dilakukan. Idealnya pemasangan dilakukan oleh Tim Implant, yang terdiri dari Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut, Dokter Gigi Spesialis Periodontologi, dan Dokter Gigi Spesialis Prosthodonti.

Meski relatif aman, pasien harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan, di antaranya tulang gigi pasien harus sehat dan cukup tebal, karena pasien yang sudah kehilangan gigi lama maka tulangnya menciut dan menipis. Bagi pasien yang seperti ini, maka harus dilakukan penambahan tulang sebelumnya melalui metoda grafting. Khusus untuk gigi atas kadang-kadang jarak tulang dan sinus maksilaris sangat tipis sehingga diperlukan suatu operasi pengangkatan sinus agar implant gigi tidak menembus dan merusak mukosa sinus maksilaris. Bahan implant gigi terbuat dari titanium, atau logam yang bersifat biocompatible yang artinya saat bahan ini dimasukkan ke dalam tulang, maka tubuh kita tidak memberikan reaksi penolakan.

Kesuksesan implant gigi ini bergantung dari beberapa hal, yaitu kondisi tulang pasien, bahan implant, ketrampilan operator dan juga pemeliharaan implant gigi oleh pasien. Angka kesuksesan pemasangan implant gigi rata-rata 90-95%, Kegagalan dalam pemasangan implant gigi biasanya berhubungan dengan proses penyatuan bahan implant gigi dengan tulang rahang yang tidak sempurna, yang antara lain disebabkan oleh adanya proses infeksi, karena pasien tidak menjaga kesehatan mulutnya dengan baik. Pasien yang telah melakukan pemasangan implant gigi harus selalu menjaga kebersihan mulutnya dan melalukan kontrol periodik setiap 6 bulan sekali. Bila pasien selalu memperhatikan kesehatan mulutnya maka implant gigi dapat bertahan seumur hidup dan mahkota tiruan diatas implant bisa bertahan hingga 10-15 tahun.

 

10 Kata “Jangan” Yang Harus Anda Ingat Setelah Operasi Gigi

Depok, 9 Pebruari 2008: Jam 22.00 WIB

Pengunjung Blog yang terhormat,

Khusus bagi Anda yang baru saja dan akan melakukan operasi gigi, ada 10 hal penting yang harus Anda ingat demi kesembuhan gigi Anda tersebut, yaitu:

  1. Jangan lupa menggigit tampon di daerah bekas operasi selama 30-60 menit, setelah itu kapas bisa dibuang.
  2. Jangan berkumur-kumur keras dalam 24 jam pertama pasca operasi. Ingat, semakin berkumur akan semakin berdarah.
  3. Jangan banyak meludah, atau mengumpulkan ludah, ludah sebaiknya ditelan saja.
  4. Jangan merokok, khusus bagi Anda yang perokok, cobalah tahan keinginan untuk merokok ini terlebih dahulu sampai gigi Anda benar-benar sembuh.
  5. Jangan mempermainkan daerah operasi dengan lidah atau benda lainnya, apalagi dengan tangan atau benda keras lainnya.
  6. Jangan makan dan minum yang panas atau pedas pada 24 jam pertama, dianjurkan untuk meminum yang dingin.
  7. Jangan lupa mengompres dingin pada daerah pipi selama 24 jam pertama, pada hari selanjutnya dilakukan kompres hangat.
  8. Jangan panik jika terjadi pembengkakakan, karena pasca operasi umumnya terjadi pembengkakan. Untuk beberapa kasus, kadang menimbulkan rasa baal atau kesemutan pada daerah sekitar pasca operasi.
  9. Jangan lupa meminum obat secara teratur sesuai dengan anjuran Dokter Gigi yang telah mengoperasi gigi Anda.
  10. Jangan lupa untuk kembali kontrol kepada Dokter Gigi yang telah mengoperasi gigi Anda.

Demikianlah informasi ini, semoga bermanfaat.

Drg. Vera Julia, SpBM
(Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut & Maksilofasial)

Pentingnya Screening dengan “Ronsen Panoramik” untuk mendeteksi kelainan gigi dan mulut secara dini.

Depok. 21 Januari 2008: 17.05 WIB

Pengunjung Blog yang terhormat,

Pada posting kali ini, saya akan mencoba menjelaskan begitu pentingnya melakukan screening dengan menggunakan “Ronsen Panoramik” sebelum seorang Dokter Gigi melakukan tindakan medis. Apabila Anda tidak dalam keadaan hamil (bagi yang wanita) dan belum pernah dilakukan ronsen jenis ini selama hidup Anda, maka sebaiknya Anda melakukannya. Yah, tentu saja dengan meminta surat permintaan rujukan foto ronsen dari Dokter Gigi Anda.

Dalam Ronsen Panoramik ini akan terlihat susunan keseluruhan gigi dan hubungannya dengan struktur anatomis penting di sekitar gigi tersebut. Biasanya, saya selalu menganjurkan pasien saya yang berniat untuk mencabut giginya, untuk terlebih dahulu melakukan Ronsen Panoramik. Perlu Anda ketahui bahwa gigi yang terlihat di dalam mulut, sesungguhnya hanyalah merupakan 1/3saja dari gigi secara keseluruhan, sedangkan yang 2/3 bagian gigi yang tertanam di tulang rahang itu hanya dapat terlihat dengan bantuan Ronsen Panoramik.

Di dalam tulang rahang terdapat beberapa anatomi yang penting seperti adanyarumah syaraf yang berhubungan erat dengan akar gigi atas. Ronsen Panoramikini juga dapat mendeteksi adanya infeksi, kista, tumor dan berbagai kelainan di rongga mulut secara dua dimensi. Ronsen Panoramik ini relatif sederhana dan biayanya tidak terlalu mahal namun sangat membantu bagi pembuatan perencanaan perawatan gigi Anda.

Sekedar informasi bagi Anda yang berdomisili di sekitar Depok, tepatnya di RSU Bunda Depok yang terletak di Jalan Margonda Raya, sudah tersedia fasilitasRonsen Panoramik ini. Jadi, bagi pasien atau calon pasien yang berlokasi di Depok dan sekitarnya dapat melakukan Ronsen Panoramik di sana.

Sekian informasi dari saya dan semoga hal ini dapat membantu dan menambah pengetahuan Anda mengenai Ronsen Panoramik. Akhir kata saya ucapkan“Selamat mengunjungi Dokter Gigi Anda”.

Kenapa daerah pasca operasi gigi masih belum tertutup sempurna setelah seminggu operasi?

Depok. 18 Januari 2008: 01.15 WIB

Pengunjung Blog yang terhormat,

Seorang Pasien saya yang kebetulan berprofesi sebagai Dokter, mengajukan kebingungan pada saat seminggu setelah operasi dan sudah diangkat jahitannya. Karena sungkan bertanya langsung dengan saya, dia bertanya dengan Perawat Gigi saya, “Suster, kenapa ya kok daerah bekas operasi gigi bungsunya masih berlubang ya, padahal sudah dibuka jahitannya”. Suster itu kemudian menyampaikan ke saya. Dalam hati saya berkata, “Seorang Dokter saja yang tahu mekanisme penyembuhan tulang heran, apa lagi pasien saya yang lain, yang tidak berprofesi di bidang medis”. Kasihan sekali mereka (Pasien) kalau sampai dibiarkan dalam kebingungan.

Nah, maka dalam postingan saya kali ini, saya akan memberikan sedikit saja penjelasan dalam bahasa yang mudah-mudahan dapat dimengerti oleh pengunjung Blog saya.

Jadi, keadaan itu sangat mungkin bahkan umumnya memang terjadi pasca pengangkatan operasi gigi bungsu ataupun pasca pencabutan gigi biasa. Karena, gigi berada dalam soket yang terdiri dari tulang penyangga (tulang alveolar), dan baru kemudian dilapisi gusi dengan ketebalan kira-kira 1 mm saja. Nah, pada saat selesai operasi, penjahitan dilakukan hanya pada bagian gusi saja. Setelah seminggu, pada saat benang jahit diangkat, umumnya tulang di bawah gusi masih belum tertutup dengan sempurna karena penyembuhan di dalam tulang tsb memerlukan waktu yang lebih lama (2-3 bulan) dibandingkan penyembuhan pada jaringan gusi .

Biasanya, Pasien mendapati secara kasat mata bahwa daerah tersebut tampak berlubang, sehingga Pasien khawatir makanan akan terjebak masuk kesana. Sehingga akhirnya malah tidak dipakai untuk makan sama sekali daerah tersebut. Inilah yang tidak benar, dengan tidak dipakai mengunyah, maka daerah tersebut akan semakin kotor, karena otot-otot pengunyahan tidak bekerja, sehingga tidak terjadi “self cleansing” dari rongga mulut. Janganlah khawatir, bila daerah tersebut belum tertutup sempurna, karena penyembuhannya sudah terjadi pada dasar lubang tersebut, dan terus mengisi kekosongan tersebut dari dasar sampai ke atas. Sehingga bila ada makanan yang masuk, pasti akan berusaha dikeluarkan oleh tubuh secara alamiah.

Oleh karena itu, haruslah mengunyah makanan pada kedua sisi rongga mulut, karena semakin tidak dipakai mengunyah, maka daerah tersebut akan semakin kotor karena otot menjadi pasif, tidak mengaktifasi self cleansing, dan bila dibiarkan mengunyah pada satu sisi, maka lama-kelamaan akan menimbulkan gangguan sendi rahang yang dapat menyebabkan nyeri kepala, leher sampai ke daerah bahu.

Demikian informasi kali ini semoga bermanfaat dan terima kasih atas kunjungannya.

Drg. Vera Julia, SpBM
(Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut & Maksilofasial)

Komplikasi pasca Operasi Gigi Bungsu

Depok, 13 Januari 2008: 18.30 WIB

Pengunjung Blog yang terhormat,

Posting kali ini lahir dari keheranan saya terhadap seorang pasien yang sangat terkejut begitu saya meminta tanda tangan persetujuan tindakan medis (inform concent) sesaat sebelum dilakukan tindakan operasi gigi bungsu. Tentunya hal ini saya lakukan setelah saya menerangkan kepada pasien tersebut hal-hal apa sajakah yang dapat menimbulkan resiko dan komplikasi dari tindakan operasi gigi bungsu. Menurut pasien tersebut, yang akan saya lakukan adalah tindakan operasi ringan saja dan tidak akan mempengaruh kesehatan tubuh secara keseluruhan. Namun, setelah saya beri penerangan secara hati-hati dan pelan-pelan, sang pasien tersebut akhirnya mau juga menandatangani surat persetujuan itu.

Yang perlu sekali lagi saya tekankan pada posting ini adalah tentang “operasi gigi bungsu”. Operasi gigi bungsu memang merupakan operasi ringan, tetapi operasi tersebut dapat menimbulkan beberapa resiko dan komplikasi sesudah operasi. Berat dan ringannya resiko dan komplikasi yang terjadi tergantung seberapa sulit posisi gigi bungsu tersebut. Biasanya semakin sulit posisinya, komplikasinya juga akan semakin tinggi. Kadang-kadang resiko dan komplikasi ini dapat mengganggu aktivitas pasien, apalagi bila pasien tersebut tidak diberi penjelasan sebelumnya.

Baiklah, saya akan informasikan bahwa secara umum pengangkatan gigi bungsu menimbulkan rasa nyeri pasca operasi yang berangsur menghilang dari hari ke hari, sehingga bila nyeri bertambah, maka sebaiknya Anda segera menghubungi Dokter Gigi yang mengoperasi Anda. Pembengkakan akan terjadi dan bertambah sampai hari ke 3 atau ke 4, namun sesudahnya berangsur mengecil. Puncak fase akut ini biasanya terjadi pada hari ke 3, biasanya pasien bila tidak diinfokan sebelumnya akan panik karena bengkaknya semakin jelas.

Ada beberapa pasien yang merasa demam juga di 3 hari pertama pasca pencabutan. Resiko yang lain adalah kemungkinan adanya rasa baal sementara(parestesi) karena posisi gigi yang sangat dalam, atau singgungan dari jarum suntik pada saat melakukan anestesi lokal. Beberapa hal yang telah disebutkan merupakan manifestasi dari peradangan yang timbul akibat tindakan operasi gigi bungsu. Sehingga sangat normal terjadi dan dapat diminimalkan dengan pemberian analgesik antiinflamasi. Dan untuk sebagian kecil pasien kadang-kadang menimbulkan kebiruan atau lebam pada daerah pipi bagian luar, yang umumnya akan hilang dalam waktu 10-14 hari.

Komplikasi yang ditimbulkan dapat berupa perdarahan berkepanjangan, tidak terbentuknya bekuan darah pada soket gigi (dry socket), atau infeksi. Untuk menghindari komplikasi tersebut, biasanya Dokter Gigi Bedah Mulut akan memberikan beberapa instruksi pasca operasi gigi bungsu (akan dijelaskan pada post berikutnya), dan membekali anda juga dengan antibiotika yang rasional disamping analgetik anti-inflamasi yang adekwat dan biasanya Dokter Gigi tersebut menganjurkan anda untuk kembali lagi bila pasca operasi anda merasa tidak nyaman.

Semoga posting kali ini dapat sedikit menambah informasi kepada Anda yang baru saja dilakukan operasi gigi bungsu.

Drg. Vera Julia, SpBM
(Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut & Maksilofasial)

Masalah gigi bungsu yang tumbuh tidak sempurna

Depok, 10 Januari 2008: 18.15 WIB

Pengunjung Blog yang terhormat,

Jumlah gigi manusia dewasa sesungguhnya adalah 32 buah, gigi geraham ketiga dari setiap kwadran rahang manusia, sering disebut dengan istilah gigi bungsu. Semua graham ketiga merupakan gigi bungsu, namun tidak semua gigi terakhir merupakan gigi bungsu, loh… Nah, yang dimaksud dengan gigi bungsu kali ini ialah gigi geraham ketiga.

Gigi bungsu sering sekali tumbuh tidak sempurna (miring, tidur, terbalik) atau tidak tumbuh sama sekali karena tertanam di tulang rahang kita. Gigi bungsuyang tumbuh tidak sempurna atau dalam istilah kedokteran giginya disebut sebagai gigi bungsu impaksi, seringsekali menimbulkan gangguan. Gangguan akibat gigi bungsu impaksi, antara lain ialah infeksi sekitar mahkota gigi(pericoronitis), sakit kepala, sakit pada telinga (tinitus), parestesi pada rahang, bahkan gangguan sendi rahang (Temporo Mandibular Joint Disorder), dll, yang dapat mengganggu kualitas hidup manusia.

Gigi bungsu ini erupsi pada seseorang yang berusia sekitar 16-25 tahun. Idealnya dilakukan screening pada seseorang pada rentang usia tersebut untuk mengetahui posisi gigi bungsunya apakah dapat tumbuh normal atau impaksi. Screening sederhana bisa dilakukan dengan menggunakan Ronsen Panoramik. Apabila diketahui gigi tersebut memang impaksi, maka sebaiknya dilakukanoperasi gigi bungsu yang lazim disebut dengan Odontektomi.

Tindakan Odontektomi paling ideal dilakukan pada usia tersebut di atas, karena semakin tua usia seseorang, maka komplikasi yang ditimbulkan dari tindakanOdontektomi semakin banyak. Bahkan untuk manula perlu dipertimbangkan besar antara “risk and benefit” dari pengambilan gigi bungsu yang impaksi itu.

Semoga informasi ini dapat membantu Anda dan saya ucapkan terima kasih atas kunjungannya.

Drg. Vera Julia, SpBM
(Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut & Maksilofasial)

Depok Dontia IV, Hotel Bumi Wiyata Depok, 16 -17 Februari 2008

Depok, 4 Januari 2008: 16.15 WIB

Pengunjung Blog yang terhormat,

Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Depok, boleh berbangga dengan akan hadirnya kegiatan ilmiah Depok Dontia IV pada tanggal 16-17 Februari 2008, bertempat di Hotel Bumi Wiyata Depok. Simposium ini akan menghadirkan beberapa orang Guru Besar, Doktor dan Dokter Gigi Spesialis dari FKG UI sebagai pembicara. Tema simposium adalah “Hipnoterapi dalam Kedokteran Gigi”, dengan pembicara Drg. Chairunissa Rachman, SpBM.

Depok Dontia IV ini merupakan salah satu bentuk Continuing Dental Educationyang ditujukan bagi para teman sejawat Dokter Gigi untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan dan ketrampilan sehingga diharapkan teman sejawat Dokter Gigi dapat selalu “up date”.

Oya, dalam simposium ini juga akan diketengahkan beberapa tema dari berbagai bidang, yaitu ilmu Bedah Mulut, Orthodonti, Pedodonti dan Radiologi.

Sebagai informasi, untuk biaya Registrasi hanya sebesar Rp 250.000,-(sebelum tanggal 9 Februari 2008 !!!!!), biaya Table Clinic Hipnoterapi sebesarRp 100.000,- dan Hands On Implant sebesar Rp 300.000,-.

Informasi selengkapnya, harap menghubungi : Drg. Arnof : 08 111 40 832

Sampai jumpa di Depok Dontia IV…………!

Salam hangat,

Drg. Vera Julia, SpBM
Ketua Panitia Depok Dontia IV

Apa yang dimaksud dengan pencabutan gigi komplikasi?

Depok, 26 Desember 2007: 15.25 WIB

Pengunjung Blog yang terhormat,

Tahukah anda, salah satu pekerjaan yang rutin dilakukan dokter gigi ahli bedah mulut adalah mencabut gigi-gigi yang rusak, dan karena kerusakannya sudah lama sehingga pencabutannya menjadi sangat sulit dan memerlukan teknik bedah minor atau lebih sering disebut pencabutan gigi dengan komplikasi (ekstraksi komplikasi).

Mungkin anda pernah mengalami hal seperti ini, yaitu pada saat anda pergi ke dokter gigi, maka dokter gigi akan mengatakan bahwa gigi anda sudah rusak dan menjadi sangat menyatu dengan gigi sehingga pencabutannya akan menjadi sulit, sehingga akhirnya merujuk anda pada seorang dokter gigi spesialis bedah mulut.

Biasanya, seorang pasien akan bertanya dalam hati, apakah sedemikian sulitnyakah pencabutan gigi tersebut sehingga memerlukan tindakan bedah minor. Saya, sebagai dokter gigi spesialis bedah mulut, sering mendapat pertanyaan dari pasien:

“Dok, apakah saya akan dioperasi?”

“Bagaimanakah tindakan operasinya itu?”

“Apakah dilakukan bius?”

“Berapa suntikan yang akan dokter lakukan?”

Kira-kira seperti itulah pertanyaan yang sering diajukan oleh pasien. Sehingga terbetik dalam pikiran saya untuk menulis dalam blog ini agar anda dapat mengetahui sedikit tentang tindakan pencabutan gigi dengan komplikasi.

Sebenarnya tindakan tersebut hampir sama saja dengan tindakan cabut gigi biasa, hanya saja karena kondisi gigi yang sudah demikian rusak, maka memerlukan pembukaan gusi dengan pisau bedah kecil, kemudian juga dilakukan sedikit pengambilan tulang untuk memberikan suatu dudukan bagi alat pengungkit gigi atau memungkinkan tang gigi mencapit gigi tersebut dengan titik fulkrum yang benar sehingga akhirnya gigi dapat dilepaskan dari tulang penyangga gigi. Atau kadang juga diperlukan tindakan untuk membelah gigi menjadi beberapa bagian. Setelah semuanya selesai dilakukan maka dilakukan pembersihan soket gigi dengan suatu cairan antiseptik dan akhirnya dilakukan penjahitan untuk mengembalikan gusi yang telah disayat sebelumnya. Nah, inilah yang sering disebut-sebut cabut gigi dengan cara operasi.

Biasanya indikasi dari gigi yang memerlukan tindakan operasi kecil dalam pencabutannya ialah gigi yang Hipersementosis karena infeksi kronis pascaMummifikasi, atau gigi yang mempunyai akar divergen dan mengalami gangren pulpa dengan mahkota gigi yang sudah sangat rusak.

Semoga dapat dipahami!

Terima kasih atas kunjungannya.

Drg. Vera Julia, SpBM
(Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut & Maksilofasial)

Apa itu “Oral & Maxillofacial Surgery?”

Depok, 25 Desember 2007 : 17. 45WIB

Pengunjung Blog yang terhormat,

Mungkin beberapa dari Anda sudah tahu atau mungkin ada juga yang belum tahu, tapi saya akan sedikit memberikan gambaran singkat tentang apa itu Oral and Maxillofacial Surgery (OMS).

OMS itu sering diartikan sebagai Bedah Mulut (BM). Nah, di Indonesia kasus-kasus BM yang paling sering ada ialah kasus pencabutan gigi bungsu dengan teknik bedah minor (wisdom teeth removal with surgical approach). Padahal sesungguhnya ruang lingkup BM itu sangat luas, mulai dari pengangkatan gigi bungsu, pembenahan fraktur tulang wajah karena kecelakaan, pemasangan gigi dengan teknik implant, dan masih banyak lainnya, akan saya jelaskan dalam post saya berikutnya.

Tapi, intinya ialah Ahli Bedah Mulut di Indonesia, berasal dari Dokter Gigi yang kemudian melanjutkan sekolahnya selama minimal 5 tahun untuk menjadiDokter Gigi Spesialis Bedah Mulut dan kemudian mempunyai wewenang untuk memperbaiki kelainan di sekitar mulut dan maksilofasial.

Drg. Vera Julia, SpBM
(Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut & Maksilofasial)